Jakarta (8/4). Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI, TB. Ace Hasan Syadzily, menegaskan bahwa menjaga ketahanan nasional bukanlah tugas tunggal pemerintah atau militer semata, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh elemen bangsa. Hal tersebut disampaikan dalam forum Musyawarah Nasional (Munas) X LDII yang berlangsung di Pondok Pesantren Minhajurosyidin, Jakarta Timur, Rabu (8/4).
Dalam pidatonya, Ace menekankan bahwa organisasi kemasyarakatan dan keagamaan memiliki peran strategis dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan. Menurutnya, kohesi sosial dan pembangunan karakter bangsa yang tangguh dan berintegritas menjadi fondasi utama dalam menghadapi dinamika global yang kian tidak menentu.
“Bangsa Indonesia harus memiliki kedaulatan di berbagai lini, mulai dari ideologi, ekonomi, hingga digital. Ketangguhan kepemimpinan juga menjadi kunci agar kita tidak sekadar menjadi penonton di tengah perubahan zaman,” ujar Ace Hasan di hadapan para peserta Munas.
Ia juga menyoroti tantangan nyata seperti perubahan iklim dan disrupsi teknologi. Ace memperingatkan dampak fenomena alam seperti La Nina yang berpotensi mengancam ketahanan pangan. Di sisi lain, kemajuan teknologi yang tidak difilter dikhawatirkan dapat merusak kesehatan mental generasi muda dan mengikis kemampuan analitis mereka akibat ketergantungan pada kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).
Ace mengajak seluruh warga LDII untuk terus memperkuat sumber daya manusia yang berkarakter kebangsaan. “Bangsa yang hebat bukan bangsa yang tidak pernah menghadapi masalah, tetapi bangsa yang tahu bagaimana cara beradaptasi dan bertransformasi ketika menghadapi guncangan,” pungkasnya.
Kehadiran Gubernur Lemhannas dalam acara tersebut mendapat apresiasi tinggi dari Sekretaris Pondok Pesantren Gadingmangu, Nurul Firdaus. Menurutnya, arahan yang disampaikan sangat relevan dengan visi pesantren dalam mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara spiritual, tetapi juga memiliki rasa nasionalisme yang kuat.
Nurul Firdaus menyatakan bahwa Pondok Pesantren Gadingmangu berkomitmen penuh untuk mendukung penguatan ketahanan nasional melalui jalur pendidikan karakter. Ia menilai bahwa santri harus dipersiapkan untuk menjadi individu yang tangguh dan mampu menjawab tantangan disrupsi digital yang dipaparkan oleh pihak Lemhannas.
“Kami sangat sepakat bahwa untuk menuju Indonesia Emas 2045, diperlukan SDM yang tangguh. Ponpes Gadingmangu siap menjadi garda terdepan dalam mencetak generasi profesional religius yang memiliki karakter kebangsaan yang kuat untuk menjaga keutuhan NKRI,” tutup Nurul Firdaus.

