Jakarta (7/4). Menteri Haji dan Umrah, KH Mochamad Irfan Yusuf yang biasa disapa Gus Irfan, memberikan sambutan dalam pembukaan Musyawarah Nasional (MUNAS) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) X LDII. Dalam perhelatan yang digelar di Grand Ballroom Minhajurrosyidin, Jakarta, pada Selasa (7/4/2026), ia atas nama pemerintah mengapresiasi berbagai pencapaian LDII.
Menurutnya tema Munas X LDII, yakni “Mengokohkan Peran LDII dalam Membangun Indonesia yang Berdaulat, Harmonis, dan Berkeadaban untuk Perdamaian Dunia”, selaras dengan visi pemerintah dalam memperkuat ketahanan nasional, terutama dalam menghadapi ketidakpastian global yang menuntut kemandirian di sektor pangan, air, dan energi.
Pada kesempatan itu, Gus Irfan menyampaikan salam hangat dari Presiden Prabowo Subianto untuk seluruh peserta Munas. Terkait isu krusial penyelenggaraan ibadah haji tahun ini, ia menegaskan pemerintah terus melakukan langkah antisipatif di tengah dinamika luar negeri. Meski terdapat tantangan kenaikan harga dan logistik, ia memastikan bahwa jadwal keberangkatan tetap sesuai rencana, yakni mulai masuk asrama haji pada 21 April. Kemudian pemberangkatan perdana ke Tanah Suci pada 22 April 2026.
Menanggapi adanya tekanan harga komoditas global yang berdampak pada biaya penerbangan, Gus Irfan menegaskan instruksi Presiden Prabowo untuk memprioritaskan keselamatan jamaah. Pemerintah berkomitmen agar kenaikan biaya-biaya operasional yang terjadi akibat situasi global tidak dibebankan kepada para jamaah haji, demi menjaga kelancaran ibadah masyarakat.
Situasi geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur turut menjadi sorotan dalam sambutan tersebut. Gus Irfan menekankan pembangunan bangsa tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan sinergi dari seluruh elemen, mulai dari pemerintah, ormas, hingga akademisi. Keberagaman Indonesia dipandang memerlukan perekat kuat berupa moderasi beragama dan karakter bangsa agar tetap tangguh menghadapi potensi perpecahan.
Ia juga memuji kontribusi nyata LDII yang selama ini fokus pada dakwah menyejukkan dan penguatan karakter sosial di lapangan. Menurutnya, keberhasilan pembangunan nasional membutuhkan peran organisasi seperti LDII sebagai jembatan strategis antara kebijakan pemerintah dan praktik kehidupan sehari-hari di masyarakat demi memperkuat ketahanan sosial bangsa.
Menanggapi paparan Gus Irfan, Sekretaris Pondok Pesantren Gadingmangu, Nurul Firdaus, menyatakan kesiapan pihaknya dalam mendukung visi besar pemerintah. Ia mengapresiasi langkah Presiden yang mengedepankan keselamatan jamaah haji, dan berkomitmen institusi pendidikan seperti pesantren akan terus berperan aktif, dalam memperkuat moderasi beragama serta menyosialisasikan kebijakan swasembada nasional.
“Keluarga besar Pondok Pesantren Gadingmangu mengapreasiasi kehadiran Menteri Haji dan Umrah, Gus Irfan, dalam Munas LDII, karena merupakan sinyal kuat harmonisasi antara pemerintah dan lembaga pendidikan dakwah,” ujar Firdaus.
Menanggapi tema Munas mengenai kemandirian pangan, air, dan energi, menurut Firdaus Pondok Pesantren Gadingmangu menyatakan kesiapannya untuk terus bertransformasi. Tema tersebut dipandang sangat relevan dengan kurikulum kemandirian yang selama ini diajarkan kepada para santri di Gadingmangu, “Kami melihat arahan pemerintah terkait tantangan global ini sebagai panggilan bagi pesantren untuk memperkuat sektor kemandirian. Santri tidak hanya dibekali ilmu agama yang kuat, tetapi juga harus melek terhadap ketahanan pangan dan energi sebagai wujud bakti pada negara,” pungkasnya.

