Jakarta (9/4). Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menekankan pentingnya organisasi kemasyarakatan (ormas) untuk segera beradaptasi dengan kemajuan teknologi digital, khususnya Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI). Deputi Bidang Koordinasi Penguatan Karakter dan Jati Diri Bangsa Kemenko PMK, Prof. Warsito, menyatakan bahwa pengabaian terhadap transformasi teknologi ini berisiko membuat organisasi tertinggal dalam dinamika global yang kian kompetitif.
Dalam pemaparannya pada Musyawarah Nasional (Munas) X LDII di Jakarta, Kamis (9/4/2026), Prof. Warsito menjelaskan bahwa keberhasilan pembangunan masyarakat masa kini tidak lagi hanya bertumpu pada indikator ekonomi, kesehatan, dan pendidikan semata. Ia menegaskan bahwa inklusi dan kohesi sosial yang diperkuat dengan literasi teknologi menjadi kunci utama bagi ormas untuk tetap relevan dalam menjaga resiliensi bangsa di tengah ketidakpastian era digital.
Lebih lanjut, Warsito menyoroti fenomena “Akal Imitasi” yang jika tidak dikelola dengan bijak, dapat menjadi bumerang bagi karakter bangsa. Ia menganalogikan AI sebagai alat yang harus dikendalikan secara penuh oleh manusia, bukan sebaliknya. Menurutnya, penguatan jati diri berdasarkan nilai-nilai Pancasila merupakan filter paling efektif agar masyarakat tidak terombang-ambing oleh arus informasi dan polarisasi identitas yang sering kali dipicu oleh algoritma digital.
Selain tantangan teknologi, pemerintah juga mendorong setiap elemen masyarakat untuk memasukkan pilar manajemen risiko dalam setiap program kerjanya. Hal ini dipandang krusial mengingat bonus demografi Indonesia harus dibarengi dengan kompetensi sumber daya manusia (SDM) yang unggul. Tanpa kesiapan bersaing di level regional maupun internasional, mayoritas penduduk usia produktif dikhawatirkan hanya akan menjadi penonton di pasar kerja sendiri.
Strategi penguatan SDM tersebut, menurut Prof. Warsito, harus dimulai dari lima ekosistem utama: keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan, ruang digital, serta tempat ibadah. Ia menyebut tempat ibadah memiliki peran sentral sebagai pusat penguatan karakter yang mampu melahirkan individu dengan integritas tinggi sekaligus siap menghadapi transformasi teknologi yang serba cepat.
Upaya ini memerlukan sinergi kolektif dari seluruh ormas untuk menciptakan sumber daya yang tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga memiliki integritas budaya. Kemenko PMK berharap ormas mampu menjadi jembatan transformasi yang membawa masyarakat menuju kemandirian teknologi dengan tetap berpijak pada nilai-nilai luhur gotong royong dan rukun kompak dalam kehidupan bernegara.
Menanggapi urgensi transformasi digital tersebut, Sekretaris Pondok Pesantren Gadingmangu, Nurul Firdaus, menyambut positif arahan dari pemerintah. Ia menyatakan bahwa lembaga pendidikan berbasis pesantren kini memiliki tantangan besar untuk mengintegrasikan kurikulum agama dengan kecakapan teknologi informasi. Menurutnya, santri masa kini tidak boleh hanya mahir dalam ilmu agama, tetapi juga harus melek terhadap perkembangan AI agar mampu berdakwah dan berkontribusi secara efektif di ruang publik digital.
Nurul Firdaus juga menambahkan bahwa di lingkungan Ponpes Gadingmangu, adaptasi terhadap manajemen risiko dan teknologi digital terus diupayakan agar lulusannya memiliki daya saing global. “Kami menyadari bahwa penguasaan teknologi adalah sebuah keniscayaan. Sesuai arahan Prof. Warsito, kami berkomitmen untuk menjadikan teknologi sebagai alat pendukung penguatan karakter santri, sehingga mereka siap menghadapi ketidakpastian masa depan tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia,” pungkasnya.

