Jakarta (9/4). Pondok Pesantren (Ponpes) Gadingmangu menegaskan komitmennya dalam menjaga aset budaya dan sejarah peradaban Islam di Indonesia. Langkah ini selaras dengan visi strategis yang disampaikan oleh Menteri Kebudayaan RI, Prof. Fadli Zon, dalam pembekalan pada ajang Musyawarah Nasional (Munas) X LDII di Jakarta, Kamis (9/4/2026).
Dalam paparannya yang bertajuk “Kebudayaan sebagai Soft Power Indonesia dalam Membangun Perdamaian Dunia”, Fadli Zon mengungkapkan temuan arkeologis penting mengenai sejarah Islam di tanah air. Ia menyebutkan bahwa masuknya Islam ke Nusantara terjadi jauh lebih awal dari asumsi populer selama ini, yakni diperkirakan sudah dimulai sejak abad ke-7 masehi.
Lebih lanjut, Fadli Zon menekankan bahwa kebudayaan nasional, termasuk pencak silat dan tradisi pesantren, merupakan kekuatan diplomasi lunak (soft power) yang sangat kuat. Unsur-unsur budaya tersebut dinilai mampu menempatkan Indonesia sebagai episentrum peradaban dunia di tengah dinamika global yang terus berubah.
“Indonesia adalah bangsa Mega Diversity. Kita memiliki kekayaan budaya tak benda yang luar biasa. Budaya bukan hanya warisan masa lalu, tapi kekuatan pendorong (driving force) untuk masa depan,” ujar Fadli Zon di hadapan para peserta Munas. Ia menekankan bahwa keberagaman 1.300 suku dan ratusan bahasa adalah modal utama bangsa.
Menteri Kebudayaan juga mengapresiasi peran aktif organisasi keagamaan dalam menjaga nilai-nilai luhur sekaligus membangun karakter bangsa. Ia menegaskan bahwa pemerintah saat ini terus mendorong penguatan ekosistem budaya melalui perlindungan warisan sejarah, pengembangan seni, hingga diplomasi budaya di tingkat internasional.
Langkah penguatan ini diharapkan mampu menjadikan kebudayaan sebagai engine of growth atau mesin pertumbuhan baru, sekaligus menjadi perekat persatuan bangsa. Dengan fondasi budaya yang kuat, Indonesia memiliki potensi besar untuk memimpin peradaban dunia melalui pendekatan yang humanis dan berakar pada tradisi.
Hadir dalam acara tersebut, Sekretaris Pondok Pesantren Gadingmangu, Nurul Firdaus, menyambut positif arahan Menteri Kebudayaan. Menurutnya, pesantren selama ini memang menjadi benteng pertahanan budaya yang secara konsisten mengajarkan nilai-nilai adab dan budi pekerti luhur kepada para santri sebagai bagian dari identitas bangsa.
Nurul Firdaus menambahkan bahwa Ponpes Gadingmangu siap mengintegrasikan semangat pelestarian sejarah Islam abad ke-7 tersebut ke dalam kurikulum pendidikan pesantren. Hal ini bertujuan agar para santri tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga memiliki kesadaran sejarah yang kuat untuk menjaga kedaulatan kebudayaan Indonesia di mata dunia.

