Jakarta (9/4). Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI, Abdul Mu’ti, menegaskan komitmen pemerintah dalam memerangi kesenjangan pendidikan di tanah air melalui visi “Pendidikan Bermutu untuk Semua”. Hal tersebut disampaikan dalam gelaran Musyawarah Nasional (Munas) X LDII yang berlangsung di Pondok Pesantren Minhajurosyidin, Jakarta Timur, Kamis (9/4/2026). Dalam pidatonya, ia menyoroti bahwa akses pendidikan berkualitas harus dirasakan oleh seluruh anak bangsa tanpa terhambat faktor ekonomi, geografi, maupun kondisi fisik.
Sebagai langkah konkret, Kemendikdasmen tengah memprioritaskan revitalisasi sarana dan prasarana sekolah secara bertahap di seluruh penjuru Indonesia. Selain perbaikan fisik, pemerintah juga menggenjot program digitalisasi melalui distribusi Interactive Flat Panel (IFP) yang ditargetkan menjangkau seluruh kelas di Indonesia pada tahun 2029. Transformasi ini diharapkan mampu menciptakan proses pembelajaran yang lebih interaktif dan relevan dengan dinamika global.
Namun, Abdul Mu’ti menekankan bahwa kecanggihan teknologi harus dibarengi dengan penguatan karakter. Ia memperkenalkan program “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat” yang mencakup kedisiplinan beribadah, pola hidup sehat, hingga kepedulian sosial. Langkah ini diambil untuk membentengi generasi muda dari tren negatif seperti budaya malas gerak (mager) serta melonggarnya nilai-nilai spiritual yang memicu peningkatan angka ateisme.
Menteri juga menyatakan keprihatinannya terhadap fenomena “generasi cemas” yang rentan terhadap tekanan mental dan risiko bunuh diri. Menurutnya, banyak anak muda saat ini kehilangan ketenangan spiritual akibat rapuhnya institusi keluarga dan dampak destruktif perundungan di media sosial. Hal ini menjadi alasan kuat bagi pemerintah untuk menggeser fokus pembelajaran pada pemaknaan yang mendalam ketimbang tumpukan materi yang berlebihan.
Dalam upaya menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman, kurikulum saat ini mulai dikurangi beban kontennya untuk memperkuat kurikulum tidak tertulis (hidden curriculum). Strategi ini mengedepankan pembiasaan nilai-nilai akhlakul karimah yang diterapkan secara kolaboratif antara rumah, sekolah, dan masyarakat. Abdul Mu’ti menegaskan bahwa Kemendikdasmen tidak dapat berjalan sendiri dan sangat membutuhkan dukungan dari ormas keagamaan dalam menanamkan rasa cinta tanah air.
Menutup keterangannya, Abdul Mu’ti mengajak seluruh elemen bangsa untuk kembali memuliakan hubungan antara guru dan murid sebagai fondasi utama pendidikan. Dengan sinergi yang kuat antara kebijakan pemerintah dan peran aktif masyarakat, visi pendidikan yang merata bukan sekadar slogan, melainkan kunci dalam menghadapi tantangan masa depan yang kian kompleks.
Sekretaris Pondok Pesantren Gadingmangu, Nurul Firdaus, yang hadir dalam acara tersebut, memberikan apresiasi tinggi terhadap visi yang disampaikan Mendikdasmen. Ia menilai bahwa langkah pemerintah dalam menyederhanakan konten kurikulum dan fokus pada penguatan karakter sangat sejalan dengan sistem pendidikan pesantren. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah dan lembaga pendidikan berbasis agama adalah kunci utama untuk membentengi mentalitas santri dan siswa dari dampak negatif digitalisasi.
Nurul Firdaus juga menambahkan bahwa pihaknya siap mendukung program “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat” untuk diimplementasikan di lingkungan pesantren, program ini sejalan dengan program 29 karakter luhur di Pondok Pesantren Gadingmangu. Ia meyakini bahwa pembiasaan nilai-nilai spiritual dan kemandirian yang selama ini dijalankan di Pondok Pesantren Gadingmangu dapat menjadi prototipe yang memperkuat target pemerintah dalam mencetak generasi emas. Baginya, keterlibatan aktif ormas dan pesantren akan mempercepat hilangnya kesenjangan pendidikan serta krisis moral di kalangan anak muda.

